Pemerkosaan oleh Aktivis Kampus di UMY, 3 Korban Buka Suara

Pemerkosaan yang dilakukan oleh mahasiswa UMY terhadap rekan perempuannya mencuat semenjak beberapa hari lalu. Telah terdapat 3 korban yang bersuara. Pihak kampus saat ini tengah menginvestigasi kasusnya.

Qana
Qana

Daftar Isi

Kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus kembali terjadi. Kali ini di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kasusnya pertama kali mencuat setelah unggahan akun Instagram @dear_umycatcallers.

Dalam unggahannya @dear_umycatcallers mengatakan bahwa seorang aktivis kampus dengan NIM 20170430234 dari fakultas EKONOMI & BISNIS, program studi S1 Ilmu Ekonomi yang bernama Mohammad Khalid Maulana Taslamsyah dengan inisial MKA alias OCD dituduh melakukan pemerkosaan terhadap rekan kampusnya, mahasiswi UMY. “PEMERKOSAAN OLEH SALAH SATU AKTIVIS GERAKAN TERBESAR DI KAMPUS DAN DEMISIONER BEM FAKULTAS DAN UNIVERSITAS”; tulis akun @dear_umycatcallers.

Kasus ini pertama kali diunggah pada tanggal 31 Desember 2021. Dalam captionnya, korban pertama dari MKA( OCD) membeberkan kronologis permasalahan perkosaan terhadap dirinya. Kejadiannya kurang lebih 3,5 bulan yang lalu sesudah korban dikenalkan ke pelaku oleh temannya. Sejak itu korban dan MKA (OCD) mulai chatting. Sesudah 3 hari kenal, pelaku kemudian meminta dirinya untuk menemani rapat.

Dengan dalih tidak terdapat motor, MKA (OCD) lalu meminta korban untuk menjemputnya. Dikala di perjalanan korban merasa aneh, sebab jalan yang dilewati sepi seperti bukan jalan menuju ke lokasi rapat.

“Lalu di tengah perjalanan, MKA (OCD) berhenti ke suatu toko guna membeli minuman keras (miras). Sesudah itu melanjutkan perjalanan dan sampailah ke kos pelaku. Korban bertanya-tanya mengapa malah berhenti di kos. Korban dibohongi.”

Selanjutnya, sekitar jam 22. 00 WIB, sesudah MKA (OCD) meminum miras, dia meminta korban melakukan persetubuhan. Korban dalam kondisi sadar serta tidak meminum miras. Pada waktu itu korban tengah haid.

“Pelaku terus-menerus memaksa untuk bersetubuh. Karena terdesak serta terjadi relasi kuasa yang timpang, korban membersihkan darah haidnya dan terjadilah pemerkosaan. Di saat perkosaan terjadi, MKA mengatakan ke korban ‘kamu yang kuat ya kalo sama aku, soalnya aku hypersex’.”

Pasca munculnya unggahan ini, korban lain dari MKA alias OCD mulai bersuara. Hingga berita ini dipublikasi, telah terdapat 3 korban mahasiswa UMY yang sudah bersuara. Korban kedua merupakan teman dari MKA (OCD), kejadiannya pada bulan Oktober 2021. Sementara itu korban ketiga merupakan mahasiswa baru yang mengikuti tes rekrutmen BEM fakultas. MKA (OCD) setelah itu melakukan pemerkosaan dengan penetrasi melalui anus.

Atas timbulnya permasalahan dugaan pemerkosaan ini, pihak UMY telah buka suara. Seperti dilansir dari Antaranews.com, Kabiro Humas dan Protokol UMY Hijriyah Oktaviani memaparkan bawa pihak kampus sudah bergerak untuk menginvestigasi kasus ini. “Kami langsung mengambil langkah melalui Komite Etik dan Disiplin Mahasiswa, berusaha menelusuri baik pelaku ataupun korban guna dapat memberikan pernyataan,” ucapnya, Selasa (4/1).

Melalui siaran persnya pihak UMY pula menegaskan komitmen zero tolerance terhadap pelaku pelanggaran disiplin, terlebih yang mengarah pada kriminalitas. “Tindakan asusila yang dilaporkan menjadi permasalahan yang betul- betul mendapat perhatian serius dan telah dilakukan penanganan secara cepat oleh UMY supaya mampu segera diselesaikan secara tuntas,” dalam keterangan tertulis yang dibagikan kepada wartawan.

UMY mempunyai regulasi penanganan kasus pelanggaran disiplin yang baik di bawah Komite Disiplin dan Etika Mahasiswa. UMY juga sudah menunjuk Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PKBH FH UMY) guna memberikan pendampingan kepada korban maupun penyintas apabila berkeinginan untuk menempuh jalur hukum agar memperoleh hak-haknya secara hukum.

Tidak hanya itu, UMY juga berupaya mendapatkan keterangan yang valid dari penyintas secara langsung bukan hanya sekedar melalui laporan di media sosial, supaya sanggup dilakukan penyelidikan secara merata guna memperoleh bukti dan kebenaran kasus tersebut.

“UMY juga bertanggungjawab dalam proses pendampingan dan konseling bagi penyintas melalui layanan konseling yang difasilitasi oleh Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) UMY. UMY menunjukkan sikap empati, memberikan dukungan, serta memberikan perlindungan dan rasa nyaman bagi penyintas.”

Ref: Mojok

BeritaBerita LokalYogyakartaUMYPemerkosaanPelecehanViral

Qana

No one can make You feel inferior without Your consent.